David Khan dalam bukunya The Code Breakers membagi masalah pengamanan informasi menjadi dua kelompok yaitu Security dan Intelligence. 

      Security dikaitkan dengan pengamanan data, sementara intelligence dikaitkan dengan pencarian (pencurian, penyadapan) data. Keduanya sama pentingnya. Bagi sebuah perusahaan, biasanya masalah pengamanan data yang lebih dipentingkan. Sementara bagi militer dan intel, masalah penyadapan data merupakan hal yang penting juga karena ini menyangkut keamanan negara. Hal ini menimbulkan masalah baru seperti masalah privasi dan keamanan negara, masalah spy vs spy.

Security & Intelligence (dari David Kahn)

Security
Signal security: steganography, traffic security (call sign changes, dummy message, radio silence), cryptography
Electronic security: emission security (shifting radar frequency), counter-counter measures (looking through jammed radar)

Intelligence
Signal intelligence: intercepting & direction finding, traffic analysis, cryptanalysis
Electronic intelligence: electronic reconnaissance (eavesdroping on radar emission), countermeasure (jamming, false radar echoes)

      Majalah IEEE Spectrum bulan April 2003 menceritakan tentang penyadapan internasional yang dilakukan oleh beberapa negara yang dimotori oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Penyadapan ini dilakukan secara besar-besaran di udara, darat, dan laut. Jadi, masalah penyadapan informasi negara bukan isapan jempol lagi. Ini sudah menjadi informasi yang terbuka.

      Melakukan penyadapan dan mengelola data yang disadap bukan hal yang mudah. Apalagi jika volume dari data tersebut sangat besar. Masalah itu menjadi fokus bahasan dari IEEE Spectrum edisi April 2003 tersebut.
  • Bagaimana melakukan penyadapan terhadap pembicaraan orang melalui telepon? Bagaimana mendeteksi kata-kata tertentu?
  • Perlukan semua hasil sadapan disimpan dalam database?
  • Seberapa besar databasenya?
  • Bagaimana proses data mining, pencarian informasi dari database tersebut. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang belum terjawab secara teknis.
      Pengamanan data dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu steganography dan cryptography. Biasanya kita hanya familier dengan cara yang terakhir saja. Namun steganografi juga memiliki banyak manfaat.

      Pengamanan dengan menggunakan steganografi membuat seolah-olah pesan rahasia tidak ada atau tidak nampak. Padahal pesan tersebut ada. Hanya saja kita tidak sadar bahwa ada pesan tersebut di sana. Contoh steganografi antara lain: Di jaman perang antara Yunani dan Persia, pesan rahasia disembunyikan dengan cara menuliskannya di meja (mebel) yang kemudian dilapisi dengan lilin (wax). Ketika diperiksa, pesan tidak nampak. Akan tetapi sesampainya di tujuan pesan tersebut dapat diperoleh kembali dengan mengupas (kerok) lilin yang melapisinya.

      Di jaman Histalaeus, pesan disembunyikan dengan cara membuat tato di kepala budak yang telah digunduli. Kemudian ditunggu sampai rambut budak tersebut mulai tumbuh baru sang budak dikirim melalui penjagaan musuh. Ketika diperiksa di pintu gerbang lama memang sang budak tidak membawa pesan apa-apa. Sesampainya di tujuan baru sang budak dicukur oleh sang penerima pesan untuk dapat dibaca pesannya.

      Pesan rahasia dapat juga dikirimkan dengan mengirim surat pembaca ke sebuah surat kabar. Huruf awal setiap kalimat (atau bisa juga setiap kata) membentuk pesan yang ingin diberikan. Cara lain adalah dengan membuat puisi dimana huruf awal dari setiap baris membentuk kata-kata pesan sesungguhnya. Hal yang sama dapat dilakukan dengan membuat urutan gambar buah dimana pesan tersebut merupakan gabungan dari huruf awal dari nama buah tersebut.

      Pengarang Dan Brown dalam buku novelnya yang berjudul “The Da Vinci Code” memberikan pesan di sampul bukunya dengan membuat beberapa huruf dalam cetakan tebal (bold). Jika disatukan, huruf-huruf yang ditulis dalam cetakan tebal tersebut membuat berita yang dimaksud.

      Di dunia digital, steganografi muncul dalam bentuk digital watermark, yaitu tanda digital yang disisipkan dalam gambar (digital image) atau suara. Hak cipta (copyright) dari gambar dapat disisipkan dengan menggunakan high-bit dari pixel yang membentuk gambar tersebut. Gambar terlihat tidak berbeda karena kemampuan (atau lebih tepatnya ketidakmampuan) mata manusia yang tidak dapat membedakan satu bit saja, akan tetapi sebenarnya mengandung pesan-pesan tertentu.

      Steganografi juga muncul dalam aplikasi digital audio, seperti misalnya untuk melindungi lagu dari pembajakan. Contoh lain adalah menyisipkan informasi sudah berapa kali lagu tersebut didengarkan. Setelah sekian kali didengarkan, maka pengguna harus membayar sewa lagu. (Meskipun pendekatan ini masih bermasalah.)

Ditulis Oleh : Welda Aprilia ~ Mari Belajar

author-photo Kalian sedang membaca artikel tentang Steganografi yang ditulis oleh Welda Aprilia. Kalian diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya juga ya :)




:: Salam ! ::

Don't forget, share and follow twitter Mari Belajar! :D

Post a Comment

Powered by Blogger.